Selasa, 02 Juli 2013

EXPEDISI SAP7ARANU, 52 HARI, 8000 KM DAN 7 DANAU





ImageTim Sap7aranu telah menyelesaikan Expedisi menjelajah 7 Danau di Sumatera. 52 Hari telah ditempuh, total 8000 Km telah mereka lalui dengan segudang pengalaman Indah dan menakjubkan. Sumatera, tidak salah jika leluhur kita menyebutnya Swarnadwipa yang berarti Pulau Emas. Memang emas bertebaran di berbagai tempat yang kami kunjungi. Tidak secara literal berbentuk bongkahan emas, tapi berupa kekayaan alam, pemandangan, keramahan penduduk, kuliner, cerita rakyat dan masih banyak hal lainnya.

Mulai dari Lampung: dalam perjalanan menuju ke Danau Ranau kami menyusuri pantai sejak dari Bengkunat hingga Krui. Sebagian berombak besar sehingga memungkinkan untuk berselancar. Kami bertemu dengan turis asing asal Perancis yang sudah 13 tahun pulang/pergi ke Krui.

 ”I like this country very much that I’m willing to stay here”. Sebegitu sukanya dia bahkan bersedia untuk tinggal di sana.

Image
Bengkunat adalah tempat kami pertama kali merasakan Teh Talua. Bagian merah telur ayam yang dikocok dan diseduh air dengan mendidih lalu dituangi air teh dan susu.

Di Lumbok, kami bertemu dengan pemuda setempat yang membangun tempat-tempat menginap dan warung-warung makan. Memanfaatkan rendahnya tingkat hunian kamar di Lumbok Resort, satu-satunya hotel mewah di sana, akibat akses yang tidak memadai.

Lumbok memberikan tempat bagi mereka yang tekun dan berinisiatif. Kami bertemu dengan Pak Sadjum, asal Panjalu, Ciamis Utara, yang menetap di sana sejak harga beras masih Rp. 3 per Kilogram. Dia sukses menjadi petani pisang di lahan seluas 2 hektar tapi keberhasilan itu tak membuatnya mengubah kesehariannya.

Kami juga bertemu dengan Pak Muslim asal Demak yang mengadu nasib bukan di belantara beton metropolitan melainkan di Lumbok, menjadi petani dan pedagang pengumpul buah alpukat untuk dijual ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Memasuki propinsi Bengkulu, kami menginap di Air Rami. Sebuah kota pantai yang kecil tapi penduduknya giat bekerja sebagai nelayan. Di sana tidak ada Tempat Pelelangan Ikan. Nelayan bisa langsung menjual ikan hasil tangkapan ke pasar atau dijual secara borongan. Pak Lukman Hakim adalah salah seorang nelayan yang berhasil. Dia menyisakan uang rupiah demi rupiah untuk dibelikan lahan Kelapa Sawit. Dia membiayai kuliah putrinya di IAIN Padang.

Air Rami memiliki lokasi yang potensial untuk dijadikan tempat wisata pantai. Ada sebuah laguna yang berair tenang. Bayangan langit berawan sangat jelas nampak di airnya. Kami mandi di sungai berair jernih. Badan yang masih basah terasa segar tertiup angin semilir.

Image
Lepas dari kota Bengkulu kami bergerak ke arah Tapan untuk menuju ke Sungai Penuh. Kota terdekat untuk mencapai Danau Kerinci. Melintasi Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat ketegangan berkendara meningkat drastis. Jalur yang kami tempuh berupa aspal terkelupas; kerikil; lumpur bekas longsoran sementara di sisi kiri ada jurang yang entah berapa puluh meter dalamnya. Sementara ponsel kami kehilangan signal.

Di Danau Kerinci kami disambut dengan ramah oleh penduduk. Kami berbaur dengan mereka di sebuah warung. Ketika menanyakan lokasi untuk berkemah, pak Muhammad Zein, salah seorang dari mereka melarang. Tapi malah menyediakan rumahnya untuk kami menginap. Tidak hanya kamar tidur yang nyaman tapi juga cerita-cerita menarik yang kami dapatkan.

 Di Desa Muak, Kerinci, kami diajak untuk melihat situs purbakala berupa batu berukir relief dan lesung.

Bergerak menuju ke Sumatra Barat kami melintasi Kayu Aro, sebuah perkebunan teh tertua di Indonesia dan terluas di dunia. Aroma dan rasa teh yang berbeda daripada yang biasa kami minum, yaitu tanpa rasa pahit.

Image
Di Muara Labuh kami kembali main di sungai yang jernih. Ketahanan pangan di daerah ini diwakili oleh banyaknya lumbung padi khas Ranah Minang, yaitu bangunan dengan penampang segi empat sama sisi yang membesar di bagian atas.

Tiba di Alahan Panjang kami buka tenda di tepi Danau Diateh. Warga desa bergotong-royong membangun jalan lingkar danau untuk kemudahan akses bagi pewisata. Sebagian tanah mereka direlakan untuk dijadikan jalan. Kerja sama ini dipelopori oleh Perkumpulan Guru Alahan Panjang atas dana swadaya.

Kecuali Danau Diateh, Danau Dibawah dan Danau Talang dikelola oleh pemuda setempat berbentuk pungutan liar. Akibatnya fasilitas umum menjadi tidak terpelihara.

ImageDari Alahan Panjang kami menuju ke Lubuk Basung. Kota kecil ini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Agam. Di perjalanan kami singgah di Pantai Air Manis. Di sini ada batu berbentuk orang bersujud. Juga ada bebatuan yang menyerupai reruntuhan kapal, lengkap dengan tong air dan tambang besar. Konon batu itu adalah Malin Kundang beserta kapalnya.

Lubuk Basung kami tinggalkan keesokan harinya untuk menuju ke Padang Sidimpuan melalui jalur Rimbo Panti, Rao dan Kotanopan. Di Rao kami bertemu dengan Pak Mursyid, mantan penyiar RRI angkatan Sigit Kamseno dan Ahmad Syarif. Pak Mursyid lebih memilih untuk pensiun di Rao daripada tempat asalnya di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Image
Esok harinya kami menuju ke Barus. Kota pelabuhan kecil yang terkenal hingga ke Mesir sejak zaman raja Firaun berkuasa. Daerah ini adalah penghasil Kapur yang merupakan bahan untuk mengawetkan jenazah raja-raja Mesir. Kami bertemu dengan Angku Juhri Tanjung, seorang tetua desa yang mengetahui secara langsung kepunahan pohon Kapur Barus.

Barus juga merupakan tempat pertama kali ajaran Islam disebar di Nusantara pada tahun 700 Masehi. Pembawa ajaran ini dikenal sebagai Aulia 44, yaitu orang-orang berilmu agama yang dipimpin oleh Syekh Mahmud. Beliau dimakamkan di puncak bukit yang disebut Papan Tenggi.

ImageDi perjalanan antara Barus ke Sidikalang kami melihat bekas-bekas pembalakan liar. Pepohonan habis ditebangi sehingga punggung bukit terlihat gundul. Di beberapa tempat bahkan terjadi longsoran. Timbunan tanah memenuhi badan jalan sehingga lintasan berubah menjadi lumpur.

Dari Sidikalang ke Kutacane kami melintasi jalur di tengah-tengah perkebunan kemiri terbesar yang pernah kami lihat.

Di gerbang memasuki propinsi Aceh kami berhenti; berfoto; berpelukan satu sama lain dan mengenang segala proses yang kami lalui. Kami jadi sentimentil. Sepanjang ± 10 km kami berkendara memasuki Kutacane tanpa bercakap; tanpa canda; tanpa gelak tawa seperti biasa. Masing-masing hanyut terbawa arus perasaan. Namun, terlepas dari itu semua, kami merasa senang bisa melalui segalanya hingga mencapai tahap ini.

Image
Jalur di antara Kutacane dan Takengon melalui Blang Kejeren hampir sama dengan lintasan di Taman Nasional Kerinci Seblat. Hal yang membuat lebih tegang adalah bahwa kami berkendara dalam gelap melintasi hutan lebat Taman Nasional Gunung Leuser dalam cuaca hujan deras. Kami hanya bertemu dengan 10 buah mobil sepanjang perjalanan.

Takengon bagaikan sebuah mangkuk es campur berada di tengah lembah yang dikelilingi oleh pergunungan; berisikan masyarakat heterogen yang keras dalam prinsip namun mencair dan manis ketika kami berbaur. Kami mendapatkan banyak informasi tentang Putri Pukes, cerita rakyat seputar Danau Laut Tawar. Di Bukit Mendali kami berkunjung ke situs purbakala temuan tahun 2009. Sekelompok arkeolog pimpinan Ketut Wiradnyana dari Balai Arkeologi Medan melakukan penelitian atas temuan itu dan menyimpulkan bahwa kerangka manusia purba yang berusia sejak 7400 tahun sebelum masehi adalah nenek moyang suku Gayo dan Batak.

ImageGayo terkenal dengan kopinya. Di Takengon kami mencicipi kopi saring dengan harga yang sangat murah: Rp. 2.000,- per gelas. Karena tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang pengolahan kopi maka kami meluangkan waktu untuk pergi ke perkebunan kopi Atu Lintang. Kopi Gayo sukses di pasar internasional. Harganya mencapai Rp. 75.000,- per Kilogram. Masuk dalam kriteria tiga besar kopi terbaik, mengalahkan Brazil dan Tanzania. Namun nasib petani kopi di Atu Lintang berbanding terbalik dengan sukses internasional tersebut. Kesejahteraan mereka jauh dibawah standar Kebutuhan Fisik Minimum.

Dari Atu Lintang kami bergerak menuju ke Banda Aceh melalui Tebing Cot Panglima. Daerah ini merupakan tempat peristirahatan tentara Divisi X yang dipimpin oleh Kolonel Hussin Yussuf ketika membawa radio komunikasi ke Bener Meriah pada tahun 1945.

Di Banda Aceh kami melihat bekas-bekas hantaman Tsunami Aceh pada tahun 2004. Rekaman peristiwa di Museum Tsunami meninggalkan luka bagi banyak pihak. Museum itu sendiri dibangun agar masyarakat umum bisa mendapatkan informasi yang jelas tentang dampak negatif Tsunami. Tentunya juga harus menjadi lebih mawas diri dan menyadari bahwa ada Kekuatan Maha Dahsyat yang bisa meluluh-lantakkan segalanya dalam sekejap.

Kami sangat senang ketika kapal feri yang kami tumpangi bergerak meninggalkan pelabuhan Ulee Lhue menuju ke Pulau Weh. Di sisi lain juga ada perasaan sedih karena jatah waktu perjalanan yang kami punyai semakin berkurang. Di sepanjang perjalanan kami menemukan banyak hal yang menarik untuk diceritakan. Tapi karena keterbatasan waktu menyebabkan kami tidak bisa berlama-lama di satu tempat.

Image
Tiba di Pulau Weh, kami menuju ke Lhok Iboih. Sebuah tempat di teluk Sabang. Di sini kami mendapatkan informasi bahwa perairan di sekitar Lhok Iboih adalah Taman Nasional Biota Laut terbaik kedua setelah Bunaken. Kami menyelam dan mengambil beberapa foto terumbu karang dan keindahan kehidupan bawah laut Indonesia paling barat.

ImageKami menyelam di selat antara Pulau Sabang dan Pulau Rubiah yang terletak di utara Pulau Sabang. Perairan di sekitar merupakan habitat dari Ikan Nemo dan berbagai ikan dengan warna beragam. Di Pulau Rubiah ada sebuah bangunan tua yang dulu dijadikan karantina calon jemaah haji ketika pergi haji masih menggunakan kapal laut. Bangunan kuno dan bersejarah ini kurang terpelihara. Banyak atap yang bocor; lantai marmer yang pecah dan kayu yang lapuk dimakan usia. Kami juga mendaki ke bukit di atas Danau Aneuk Laot untuk melihat Kota Sabang dari ketinggian. 

Pulau Sabang bukan tempat yang baik untuk bertani karena hama babi hutan yang sulit untuk diberantas. Karena itu mayoritas penduduk di Lhok Iboih memilih untuk menggantungkan hidup dari usaha persewaan penginapan; perahu hingga alat selam, selain dari membuka warung makan. Pak Rahmat yang berasal dari Aceh Tengah menceritakan tentang pahitnya bertani tapi berhasil di usahanya menyewakan perahu motor.

ImageKembali ke Banda Aceh kami melalui jalur timur Sabang. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan tepi laut Andaman yang bening. Pasir pantai dibawah laut yang bening menyebabkan air terlihat berwarna hijau tosca bergradasi biru di tempat perairan yang semakin dalam.

Dari Banda Aceh kami menuju ke Lhok Nga dan menginap di Pantai Kuala Krueng Raba. Tempat ini juga mengalami kerusakan parah ketika gelombang Tsunami setinggi tiga kali pohon kelapa menerjang. Di sini juga ada laguna yang berair jernih dan digunakan oleh anak-anak penduduk setempat untuk berenang.

Keesokan harinya kami menuju ke Meulaboh. Melintasi jalanan beraspal mulus bikinan Amerika. Mungkin ini adalah jalanan termulus di Indonesia sepanjang lebih dari 90 kilometer. Di kota Meulaboh ada banyak saluran internet gratis yang disediakan oleh kedai-kedai kopi. Sama dengan di Banda Aceh dan Takengon. Tempat dimana masyarakat dari berbagai kalangan di kota berkumpul; minum kopi sambil berbagi segala informasi.

Image
 Organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia di Meulaboh sudah memantau sejak kami memasuki kota. Salah seorang dari mereka mendatangi dan mengajak kami menuju ke lokasi tempat kami bisa membuka tenda di pantai.

Pada pukul 1 pagi harinya, suhu udara mendadak turun. Terjadi badai disertai hujan lebat di laut yang berimbas ke darat. Tenda-tenda kami miring terdorong angin. Suasana sangat mencekam. Baru kali ini kami merasakan badai. Kami mendirikan tenda diatas tanah yang cekung sehingga air hujan membuat genangan dan masuk ke dalam tenda dan membuat kami tidak bisa tidur hingga badai mereda pada pukul 6 pagi.

Meulaboh kami tinggalkan menuju ke Tapak Tuan. Kota kecil ini mempunyai banyak lokasi wisata religi dan sejarah. Kami melihat jejak telapak kaki sepanjang kira-kira 3 meter. Dari telapak kaki inilah nama Tapak Tuan berasal, yaitu telapak kaki Tuan Tapa, seorang petapa yang diyakini adalah salah seorang dari Aulia 44, penyebar ajaran Islam yang datang melalui Barus. Kami juga mengunjungi sebuah rumah yang dulu digunakan oleh Bung Hatta beristirahat dalam perjalanannya keliling Aceh pada tahun 1958 untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Disayangkan rumah ini berubah fungsi menjadi rumah makan.

ImageDari Tapak Tuan kami menuju ke Subulussalam. Kota terakhir di Propinsi Aceh bagian timur/selatan. Propinsi Aceh kami tinggalkan menuju ke Samosir melalui Pangururan. Di Samosir kami kesulitan mendapatkan izin untuk membuka tenda. Semua pengunjung diarahkan untuk ke penginapan yang banyak terdapat di Tuktuk. Kami berkunjung ke situs pengadilan zaman raja-raja di Samosir. Kami juga sempat melihat pertunjukan Sigale-gale, yaitu sebuah boneka yang konon zaman dulunya bisa menari sendiri. Tidak ada tenaga orang yang menggerakkan.

Dari Samosir kami menyeberang ke Prapat menggunakan kapal feri. Di Balige kami berkunjung ke Makam Sisingamangaraja XII yang gugur bersama kedua putranya: Patuan Anggi dan Patuan Nagari sewaktu berperang melawan penjajahan Belanda.

Perjalanan teramat panjang kami tempuh ketika menuju ke Payakumbuh. Kami harus menginap di pom bensin di jalan antara Sipirok dan Padang Sidimpuan. Garis ekuator di Bonjol kami lalui persis di tengah malam.Di Payakumbuh kami berkeliling ke berbagai tempat. Kami berkunjung ke Istana Pagaruyung. Dahulu merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Melayu. Kami juga berkunjung ke tambang batubara tua di Sawahlunto; bertemu dengan keturunan Orang Rantai, yaitu tahanan politik atau kriminal zaman Belanda. Orang-orang yang dianggap membahayakan keamanan dan ketertiban pada waktu itu.

ImageDi Lembah Harau kami melihat tebing-tebing granit vertikal setinggi 150 hingga 200 meter. Lembah Harau sudah dikunjungi orang dan menjadi obyek wisata sejak tahun 1926. Di sini ada banyak air terjun. Dalam bahasa setemat disebut ‘sarasah’. Ada Sarasah Murai, tempat burung murai mandi; ada Sarasah Bunto. Di bawah air terjun-air terjun ini ada kolam alami yang digunakan oleh pengunjung untuk berenang.

Di Maninjau kami mencicipi penganan khas, yaitu Palai Rinuak. Sejenis pepes dengan bahan baku utama Ikan Rinuak. Sejenis ikan teri air tawar yang hanya hidup di Danau Maninjau. Kami juga merasakan nikmatnya mandi di danau dan sungai.

Di Danau Singkarak kami menginap di rumah Tetua Nagari, wilayah setingkat kelurahan. Perburuan babi di daerah ini terihat lebih taktis dengan pasukan anjing yang lebih banyak. Tentara Pelacak diturunkan. Tentara Penyergap siaga satu menunggu aba-aba. Ketika musuh ditemukan, semua Tentara Penyergap segera menuju ke lahan pertarungan.

Danau Singkarak adalah tempat berkembang biak Ikan Bilih. Arus air danau berputar berkeliling mengikuti arah jarum jam. Ikan Bilih bergerak mengikuti arus tersebut sehingga populasi-nya hanya ada di satu titik pada satu waktu tertentu. Alam sudah mengatur pembagian rezeki secara merata. Melihat keindahan Danau Singkarak dari atas bukit Pusaran Angin, kami hanya bisa terdiam. Di belakang kami  ada Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Sementara di kiri kami ada gugusan pegunungan Bukit Barisan.

ImageKami juga sempat berkunjung ke rumah Datuk Ibrahim TanMalaka. Keadaan rumahnya begitu memprihatinkan. Sebagian atap lapuknya diganti oleh dana swadaya masyarakat setempat. Begitu juga halnya dengan rumah tempat Syafruddin Prawiranegara mengungsi pada tahun 1958-1960. Terpencil di sudut. Di belakang sebuah masjid yang juga kuno.

Di Payakumbuh kami juga menikmati Dadiah, susu kerbau yang difermentasikan di dalam tabung bambu dan disajikan dengan gula aren. Kami juga sempat mencicipi Kawa Daun: rebusan daun kopi Arabika yang sudah dipanaskan di atas api.

Sumatra Barat kami tinggalkan untuk menuju ke Tembilahan. Melintasi konstruksi jembatan layang di Kelok 9. Jembatan ini dibuat untuk melancarkan arus lalu lintas antara Sumatra Barat dan Riau. Kelokannya tajam dan sempit. Kendaraan yang naik dan turun harus bergantian. Riau sangat panas. Berkali-kali kami harus berhenti untuk minum sehingga waktu tempuh menjadi lambat. Tembilahan sendiri dikenal sebagai Negeri Seribu Parit. Terhitung ada 56 jembatan, termasuk Jembatan Rumbai yang melintasi Sungai Indragiri.

ImageDari Tembilahan kami menuju ke Jambi melalui jalan pintas. Tidak melalui Rengat karena akan memutar terlalu jauh. Kami melalui Kilo Lapan; Kotabaru; Keritang hingga Kemuning melintasi jalur tanah berdebu tebal atau campuran pasir batu sepanjang ± 40 KM. Keadaan jalan seperti ini sudah sejak tahun 2001. Masyarakat sudah terlalu skeptis akan adanya perbaikan.

Bergerak menuju ke Palembang, kami melalui jalur lintas timur yang rawan kecelakaan. Lintasan dipenuhi oleh truk besar. Berita tentang kenaikan Bahan Bakar Minyak membuat masyarakat di sepanjang jalan yang kami lalui membuat kelompok antrian di tiap pom bensin. Jalanan macet di setiap pom bensin. Antrian bisa sepanjang 1 kilometer. Rakyat kecil ditampar lalu diberi balsem BLTM. Kasihan!

Di Palembang kami menikmati pemandangan Jembatan Ampera yang bermandi cahaya di malam hari. Kami juga mencicipi Martabak HAR.  Martabak telur seperti adonan biasa namun diberi kuah kari yang dicampung kentang rebus. Sangat terkenal di Palembang. Tentu saja kami juga menikmati pempek, makanan khas Palembang.

Dari Palembang kami menuju ke Lampung. Berkendara di lintas timur pada jalur ini membuat kami harus sangat waspada karena banyak antrian truk dan bus berbadan besar. Kami menyeberang ke Merak pada pukul 2 dini hari. Jatah waktu 50 hari yang kami miliki sudah selesai. Tinggal menyisakan waktu untuk pulang ke Jakarta.

Lepas dari Pelabuhan Merak kami saling berpamitan dan bersalaman di sebuah pom bensin. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat tinggal masing-masing.

Perjalanan menjelajah Sumatra sudah selesai. Jarak 8000 KM sudah kami tempuh. Belum dihitung berapa menit ‘footage’ dan jumlah foto yang dibuat. Lelah, namun senang dan puas. Kami bertemu dengan banyak saudara. Kami menjumpai banyak tempat yang indah. Pengalaman kami bertambah. Sekian banyak hal yang kami lalui bersama membuat kekerabatan diantara kami semakin bertambah. Sedih hati saat berpisah.

Kami berterimakasih kepada semua yang telah me’like’ fanpage ini; memberikan segala saran, masukan dan kritikan. Hakekatnya, ini adalah perjalanan kita semua. Kami berterimakasih kepada semua pihak yang sudah memberikan dukungan moril dan materil. Terimakasih kepada TVS; Respiro; Sinnob; Eiger dan 7Gear juga Proman. Terimakasih juga kepada MotorExpertz.com; Gilamotor.com; Majalah Tamasya juga Adira Motomaxx. Terimakasih kepada Jakarta Road Survival.



Sumber : Tim Sap7aranu