Sabtu, 29 Maret 2014

KAKI KUKU KAKEK KAKEK KU KAKU KAKU ...


KAKI KUKU KAKEK KAKEK KU KAKU KAKU ...


Suatu ketika, seorang kakek dengan
penampilan yang cukup berwibawa
masuk ke gerbong sebuah kereta
api. Kakek tersebut terlihat cukup
tua dan berwibawa hingga siapa
saja yang melihatnya pasti menaruh
hormat kepadanya. Seperti
penumpang lainnya, Si Kakek tentu
mencari tempat duduk yang cocok
untuknya karena kereta api akan
jalan sebentar lagi. Ia telusuri
deretan bangku demi bangku untuk
mencari tempat duduk yang kosong.
Pertama kali ia melalui bangku
berisi anak-anak yang lagi asyik
bermain;
"Assalaamu'alaikum?", sapanya.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi
wabarakaatuh, Selamat datang
Kek...", jawab mereka.
"Maaf anak-anak, adakah tempat
duduk yang kosong untukku?" tanya
si Kakek.
"Oh... sayang sekali Kek,
sebenarnya kami siap
membantuKakek dengan senang hati
karena Kakek adalah orang yang
demikian kami hormati. Akan tetapi
kami masih anak-anak yang gemar
bermain, kami khawatir jika Kakek
akan terganggu dengan kegaduhan
kami selama di perjalanan, Kakek
cari tempat duduk lainnya saja",
jawab mereka.
Maka Si Kakek pindah ke deretan
bangku berikutnya... di situ ia
mendapati muda-mudi yang sedang
asyik berpacaran. Mereka duduk
berduaan dengan mesra sambil
sesekali melantunkan bait-bait puisi
yang romantis:
"Assalaamu'alaikum?", sapanya.
"Wa'alaikumussalaam
warahmatullahi wabarakaatuh,
selamat datang Kek, ada yang bisa
kami bantu?" kata mereka.
"Hmm... maaf adik-adik, adakah
tempat kosong untukku?" tanya Si
Kakek.
"Oh Kek, tentu ada... akan tetapi
sebagaimana yang Kakek lihat, kami
adalah anak-anak muda yang
sedang asyik berbulan madu... kami
khawatir Kakek akan merasa risih
melihat kami bermesraan selama di
perjalanan. Karenanya, lebih baik
Kakek mencari tempat duduk
lainnya" jawab mereka.
Sang Kakek kembali melanjutkan
perjalanannya menyusuri gerbong
kereta tersebut hingga ia sampai di
deretan kursi yang ditempati oleh
para pengusaha. Mereka sedang
asyik membicarakan proyek-proyek
besar yang sedang atau akan mereka
garap. Sambil membentangkan peta
usaha mereka terlibat dalam
pembicaraan serius hingga salam
hangat yang penuh wibawa tersebut
terdengar...
"Assalaamu'alaikum warahmatullahi
wa barakaatuh!" kata Sang Kakek.
"Oh.. Wa'alaikumussalaam
warahmatullaahi wa barakaatuh...
Ada apa Pak?" jawab mereka.
"Maaf, bisakah bapak-bapak geser
sedikit untuk memberiku tempat
duduk?" pinta Si Kakek.
"Kakek yang terhormat, sebenarnya
Kami senang hati menerima Kakek di
sini... akan tetapi Kakek lihat sendiri
bahwa kami sibuk membicarakan
bisnis dan usaha kami. Kami
khawatir Kakek akan terganggu
dengan kesibukan kami selama di
perjalanan nanti... jadi, sebaiknya
Kakek cari tempat lain saja", jawab
mereka.
Demikianlah, lagi-lagi Si Kakek
harus kembali berjalan terhuyun-
huyun di tengah gerbong kereta api
untuk mencari tempat duduk.
Demikian seterusnya, tiap kali ia
melewati sederetan tempat duduk
selalu ada saja alasan mereka untuk
menolaknya. Mereka memang
menghargai Si Kakek mengingat
usianya yang telah lanjut dan
pancaran wibawanya, akan tetapi
ujung-ujungnya mereka tidak juga
memberinya tempat.
Akhirnya, setelah menyusuri
gerbong dari ujung, tibalah Sang
Kakek di deretan kursi terakhir...
Nampak di situ sebuah keluarga
duduk bersama. Seorang ayah
dengan baju takwa dan pecinya, lalu
ibu dengan jilbab dan busana
muslimahnya dan dua orang anak
mereka yang masih kecil namun
sopan-sopan.
Melihat Kakek yang nampak
kecapaian tadi, kontan si Ayah
berkata:
"Assalaamu'alaikum Kek, ada yang
bisa kami bantu?"
"Wa'alaikumussalaam
warahmatullahi wa barakaatuh, oh
terima kasih banyak...", sahut Si
Kakek.
(Belum lagi si Kakek mengutarakan
hajatnya, lelaki tersebut segera
menimpali):
"Muhammad, ayo kamu duduk sama
Abi di sini; dan Ahmad, kamu geser
ke sebelah sana... biar Kakek duduk
di sampingmu", kata Sang Ayah
kepada kedua anaknya. Mereka pun
segera menuruti perintah ayahnya
dan memberikan tempat duduk bagi
Si Kakek.
Alangkah bahagianya Si Kakek
mendapat perlakuan baik seperti itu.
Bukan saja senang mendapat tempat
duduk, akan tetapi ia lebih bahagia
karena merasa dihormati dan
dihargai oleh mereka. Kepenatannya
mencari tempat duduk selama ini
sirna seketika begitu ia mendapat
tempat yang cocok tersebut.
Priiiit!!! Bunyi peluit tanda kereta
segera berangkat terdengar, dan
perjalanan pun dimulai. Seperti
biasa, dalam perjalanan kereta
tersebut singgah di beberapa stasiun
sebelum berhenti di kota tujuan. Dan
tiap kali kereta tersebut berhenti,
selalu ada penjaja makanan yang
menawarkan dagangannya kepada
para penumpang. Nah, ketika
berhenti di stasiun pertama,
terdengar suara seorang pedagang
asongan yang menawarkan berbagai
makanan ringan, maka Si Kakek
memanggilnya. Ketika orang
tersebut datang, Si Kakek berkata
kepada keluarga yang duduk
bersamanya: "Ayo, ambil apa saja
yang kalian inginkan.. jangan malu-
malu".
Maka mereka pun memesan semua
makanan yang mereka suka.. lalu Si
Kakek mengeluarkan dompetnya dan
membayar semuanya. Kontan
seluruh penumpang bengong melihat
kejadian tersebut. Mereka berbisik:
"Wah, kaya juga ternyata Kakek itu..
enak ya, ditraktir makan
sesukanya.."
Tak lama lagi, bagian restorasi pun
lewat.. seperti biasa, mereka
menawarkan menu-menu spesial
seperti nasi rames, nasi goreng,
ayam goreng dan sebagainya. Si
Kakek kembali memanggilnya dan
menawarkan kepada keluarga tadi
untuk memesan apa saja yang
mereka inginkan.. lalu membayar
seluruhnya. Maka para penumpang
lainnya makin heran dengan
pemandangan tersebut, dan mereka
mulai menyesali perbuatan mereka
yang menolak Si Kakek untuk duduk
bersama mereka sebelumnya.
Beberapa jam kemudian, kereta api
tadi singgah di stasiun berikutnya.
Maka terdengarlah suara penjaja
permen cokelat yang menawarkan
dagangannya. Maka ia pun dipanggil
oleh Si Kakek dan untuk ketiga
kalinya ia menawarkan kepada
keluarga tersebut untuk memilih
cokelat apa yang mereka inginkan.
Setelah masing-masing mengambil
sesukanya, Si Kakek kembali
mengeluarkan dompetnya dan
membayar seluruhnya. Lagi-lagi
para penumpang dibikin heran
dengan pemandangan tersebut dan
makin menyesal.
Akhirnya, setelah menempuh
beberapa jam perjalanan, tibalah
kereta api di stasiun tujuan.. namun,
ada suatu hal yang tidak biasanya
terjadi di sana. Para penumpang
menyaksikan ada konvoi besar yang
menyambut kedatangan kereta
tersebut. Mereka melihat para
pejabat dan sejumlah pasukan siap
siaga di kanan-kiri gerbong kereta.
Lalu begitu kereta berhenti,
masuklah seorang laki-laki dengan
pakaian kebesaran dengan dikawal
oleh beberapa orang memeriksa
bangku kereta satu persatu. Betapa
kagetnya para penumpang ketika
mendapati bahwa orang ini adalah
Bapak Presiden yang khusus datang
untuk menjemput tamu
kehormatannya.
Namun, mereka lebih kaget lagi
ketika tahu bahwa tamu kehormatan
tersebut adalah si Kakek tua yang
duduk di akhir gerbong, yang
awalnya mereka tolak untuk duduk
bersama mereka.
Begitu menghampiri Si Kakek, Bapak
Presiden langsung memeluknya
erat-erat dan menyalaminya dengan
hangat. Ia pun menawarkan agar Si
Kakek dijemput dengan mobil
pribadinya untuk diantar ke istana
dan mendapat jamuan spesial.. ya,
bahkan sangat spesial!!
Sang Kakek menerimanya dengan
senang hati, namun dengan syarat
bila keluarga yang duduk
bersamanya juga mendapat
perlakuan sama. Presiden pun
menerima permintaannya dengan
senang hati, dan saat itulah para
penumpang yang ada di gerbong tadi
menyesal luar biasa atas penolakan
mereka.. mereka berharap andai
saja mereka membiarkan Kakek
tersebut duduk bersama mereka dan
menghentikan sejenak kesibukan
mereka untuk memberinya perhatian,
atau meluangkan sedikit waktu dan
tempat agar Kakek tadi dapat duduk
bersama mereka.. atau.. tapi
sayang, semuanya telah terlambat
dan perjalanan telah berakhir.. yang
tersisa hanyalah penyesalan demi
penyesalan.
Nah, saudara pasti bisa menebak
siapakah Kakek tersebut?
Benar.. dialah.. agama.. yang
selama ini kita hargai dan kita
hormati akan tetapi sering kali kita
kesampingkan dalam hidup ini.
Ketika nilai-nilai agama hendak
ditanamkan ke anak-anak, kita
menolaknya dengan alasan: "Khan
mereka masih kecil.. biarlah mereka
bebas bermain, bebas berpakaian,
dan lain-lain.. belum saatnya
mereka disuruh menjadi orang
'alim". Dan akhirnya masa kanak-
kanak terlewatkan begitu saja.
Kemudian ketika mereka beranjak
dewasa kita pun menolaknya dengan
alasan: "Kasihan kalau remaja harus
dikekang dengan aturan agama,
tidak boleh bebas bergaul dan
berteman dengan lawan jenis.. atau,
kasihan kalau mereka harus mengisi
bulan madu dengan acara-acara
keagamaan, biarlah mereka
menikmatinya terlebih dahulu.. dan
semisalnya", maka masa itu pun
terlewatkan juga.
Kemudian ketika mereka telah
beranjak dewasa dan mulai
tersibukkan dengan berbagai
pekerjaan, lalu datang 'tawaran'
untuk menerapkan agama dalam
kehidupan mereka, suara sumbang
tersebut kembali terdengar.. "Wah,
kita sekarang lagi sibuk-sibuknya
mengurus perusahaan, proyek,
bisnis dan lain sebagainya.. kita
tidak ada waktu untuk mempelajari
Islam dan menerapkannya
sedemikian rupa".
Akhirnya umurpun berlalu demikian
cepat tanpa mereka sadari dan
tibalah masing-masing di stasiun
akhirnya.. tempat mereka menuai
hasil dari yang selama ini mereka
usahakan.. ajal mereka telah habis
dan kesempatan itu telah berlalu.
Mereka hanya bisa bengong dan
menyesal menyaksikan orang-orang
yang selama ini mereka anggap
'kolot', 'sok alim' dan lain
sebagainya karena demikian
menerapkan ajaran agama: mereka
iri luar biasa menyaksikan besarnya
penghargaan yang diberikan atas
kesediaan mereka untuk bersama Si
Kakek (baca: Islam) ketika orang-
orang menolaknya.. ternyata itu
semua membuahkan hasil yang tak
diduga: Kenikmatan selama
perjalanan (baca: dunia) dan
kebahagiaan distasiun tujuan (baca:
akhirat)..